Tampilkan postingan dengan label Berita Opini Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Opini Jambi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2020

Opini Musri Nauli : Perjalanan Betuah (31)

 


Jambi.win - Membicarakan Desa Senaung, Desa Penyengat dan Sembubuk tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Al Haris didalam roadshow politik.

Ditengah masyarakat, Desa Senaung, Desa Penyengat da Desa Sembubuk tidak dapat dipisahkan dari Marga Mestong.

Marga Mestong terdiri dari Lubuk Kuari, Pematang Jering, Muara Pijoan, Dusun Sarang Burung, Dusun Sembubuk, Dusun Senaung, Dusun Penyengat Olak, Dusun Rengas Bandung, Dusun Mendalo, Dusun Bertam, Dusun, Pondok Meja, Dusun Penyengat Rendah, Dusun Kenali Besar. Berpusat di Dusun Sungai Duren.

Minggu, 04 Oktober 2020

Opini : Logika HBA dan Halusinasi Cek Endra


Oleh : Nurul Fahmy *

Hasan Basri Agus (HBA) adalah politikus ulung. Dia profesional dan tegak lurus. Berdiri sebagai anggota komite/badan pemenangan pemilu Partai Golkar, dia harus mendukung Cek Endra, calon gubernur yang diusung oleh partai tersebut.

Di sisi lain, anak ideologisnya, Al Haris, juga ikut maju mencalonkan diri sebagai gubernur Jambi. Menjadi seteru calon dari partainya. Dia, HBA, jelas tak boleh ‘cawe-cawe’ dalam urusan pemenangan anaknya itu. Terlarang secara teknis kepartaian.

Namun apakah dia tidak boleh mendukung anaknya dalam kompetisi ini? Boleh saja. Dalam bentuk apa? Doa. Kalau dukungan verbal diberikan ke calon dari partainya dalam bentuk kerja, maka doa-lah yang akan dia panjatkan untuk anaknya. Doa bapak untuk anaknya.

Tak ada yang boleh mensabotase doa. Tak bisa orang mengkomplain doa, termasuk partai politik sekalipun. Doa adalah energi yang dilambungkan secara vertikal ke udara. Turun berupa rahmat bagi alam semesta. Apa yang lebih tinggi setelah doa?

Apakah ini khianat atau munafik? Bukan. Ini politik, Bung. Dalam politik, kepentingan masyarakat sejatinya harus didahulukan. HBA pasti mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang dipikul di pundaknya. Tak hendak dia merusak susu sebelanga dengan nila yang setitik.

Sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar, dia harus benar-benar konsisten dan komitmen untuk menunaikan janji pada masyarakat, termasuk beban tugas-tugas partai yang diberikan padanya. Meski, tanpa partai sekalipun, siapa yang bisa menyangkal ketokohan HBA? Maap-maap kata, kalaulah kemarin caleg boleh maju ke DPR pakai sepeda motor saja (tanpa partai), HBA pasti akan diantar ratusan ribu lebih pendukungnya dengan sepeda motor ke Senayan itu.

Tapi begitulah yang namanya tugas partai. Jangan cuma gara-gara sepele, dianggap tidak mendukung Cek Endra, dia diberi sanksi oleh partai. Terkena pergantian antar waktu (PAW). Kalau di-PAW, dia jelas tidak dapat menuntaskan janjinya. Janji yang sebenarnya adalah mimpinya juga. Mimpi untuk rakyat Jambi. Rajutan mimpi yang dimulainya sejak dia menjadi gubernur Jambi.

Mimpi dan harapan, yang kalau boleh kita jernih memandang, secara nyata telah tertransformasi ke dalam program-program kerja Al Haris, baik sejak menjabat sebagai Bupati Merangin, maupun sebagai cagub Jambi 2020 ini. Cermatilah visi misinya.

Adalah Pelabuhan Samudera Ujung Jabung yang merupakan salah satu mimpi HBA. Mimpi yang saat ini terejawantahkan melalui program dan visi-misi pasangan calon gubernur Jambi Al Haris-Abdullah Sani. Tak ada pasangan lain yang punya konsep dan fokus menggarap mimpi HBA ini.

Maka itu HBA punya strategi jitu. Dia harus tetap di Jakarta, mengawal anggaran pusat di DPR. Al Haris yang akan mengeksekusinya di Jambi. Semua rencana dan strategi itu menjadi mungkin ketika alam pikiran dan orientasi yang sama antara HBA dan Al Haris. Hal yang mustahil dilakukan HBA dengan Cek Endra apalagi Fachrori.

Itulah mengapa saya sebut Al Haris adalah anak ideologis HBA. Dia mampu menerjemahkan pikiran HBA dalam program kerjanya. Dia menyambung pikiran HBA ke dalam dirinya. Untuk kepentingan itulah dia, HBA, menasbihkan doa-doa untuk anaknya.

Halusinasi CE

Sementara saat ini kita dihadapkan pada fenomena ganjil. Semacam ketakutan Cek Endra, kalau-kalau HBA tak berpihak pada dirinya. Maka dipasanglah semua wajah dirinya dengan latar HBA. Berita soal dukungan HBA dibesar-besarkan. Digoreng kian-kemari. Padahal itu adalah peristiwa biasa.

Tapi percayalah, dengan itu masyarakat membaca bahwa Cek Endra dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tak berdaya jika tidak menempel ke nama besar HBA. Mereka hanya memainkan otoritas kepartaian. Mencoba kalau-kalau masyarakat terperdaya. Padahal, masyarakat tahu, ini adalah jebakan betmen belaka. Perangkap ular.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh CE itu kalau kata anak kini adalah halu. Halusinasi. Sebab semua orang di Jambi sudah paham, ratusan ribu suara dari HBA itu tak akan lari ke mana.

* Penulis adalah jurnalis


The post Opini : Logika HBA dan Halusinasi Cek Endra appeared first on Berita Jambi Seru Com.

source https://www.jambiseru.com/berita-jambi/2020/04/10/opini-logika-hba-dan-halusinasi-cek-endra

Jumat, 02 Oktober 2020

Musri Nauli : Kucing Dalam Karung


Musri Nauli : Kucing Dalam Karung

Jambi.win - Didalam berorganisasi, tidak dapat disangkal, cita-cita, harapan, keinginan yang disampaikan para kandidat ditunggu para anggota. Dalam istilah keren disebut “mimpi” dari pemimpin untuk mengurusi organisasi. 

Ada yang berapi-api bermimpi “punya sekretariat”. Ada yang berambisi “punya kantor”. Ada yang mengajak orang memilih dengan “kebersamaan”. Ada yang mengajak “memilih dengan hati Nurani”. 

Sebagai slogan sih, ok-ok saja. Dan itu sah untuk meraih dukungan dari anggota. 

Namun ketika kandidat yang diusungnya cuma “berpolesan” wajah, isi otak yang tidak muncer, naik kendaraan mewah ditengah anggota sudah beberapa kali terbukti. 

Hanya memegang SK organisasi yang menyatakan dia sebagai “leader” namun organisasi kemudian melempem.Sudah banyak sekali contohnya. 

Sang “leader” justru menikmati kekuasaan. Bisa bertemu dengan berbagai petinggi. Dihormati. Disanjung-sanjung. Dipuja-puji sana-sini. Namun cuma “sekedar” kantorpun tidak punya. 

Lalu apakah orang yang memilih sang leader kemudian menjadi tolol ? 

Tidak. Siapapun yang memilihnya, tidak tepat dikatakan tolol. Memilih adalah hak. Dan siapapun tidak boleh “memaksa” untuk memilih. Baik dengan cara kekerasan ataupun dengan hasutan. 

Pemilih yang telah memilih sang “leader” kemudian terjebak dengan ujaran leluhur nenek moyang bangsa Indonesia. 

Memilih “kucing dalam karung”. 

Istilah memilih “kucing dalam karung” adalah istilah yang menggambarkan orang memilih hanya “mendengarkan suara kucing”. Tanpa pernah melihat “apakah kucing” itu hitam, belang-belang atau putih. 

Apakah kucing itu “kucing lokal”, kucing blasteran atau Cuma kucing biasa. 

Suara kucing hanya memastikan “memang itu suara kucing”. Namun apakah kucing itu hanya melihat tikus yang berkeliaran, kucing yang takut menangkap tikus atau Cuma kucing yang mengintai ikan dimeja makan. 

Istilah memilih “kucing dalam karung” adalah sindiran. Bahkan yang lebih tragis adalah hinaan kepada orang yang hanya memilih “tanpa melihat wujud asli” dari sang kucing. 

Memilih “kucing dalam karung” adalah perumpamaan terhadap “orang” yang memilih tanpa memperhatikan “wujud asli” kucing sebagai bentuk “memilih kucing” untuk dirumah. 

Dalam semangat politik lokal (Pilkada), memilih kucing dalam karung diumpamakan sebagai “memilih” tanpa melihat rekam jejak maupun “siapakah dia sebenarnya”. 

Publik kemudian “dipaksa” untuk memilih dengan melihat “polesan wajahnya”, suara gemuruh para supporter. Bahkan abai terhadap “rekam jejaknya”. 

Memilih kucing dalam karung persis sebagaimana kisah memilukan ketika sang “leader” lebih menikmati kekuasaan daripada mengurusi anggota organisasi. Sang “leader” asyik menikmati dunia kepopulerannya dan mengabaikan anggotanya. 

Namun ketika sang “leader” telah diberikan kepercayaan untuk memimpin organisasi cuma “polesan” wajah namun tanggungjawab tidak diembankan kepadanya menjadi tidak pantas menjadi “leader”. 

Dan alangkah memalukan bangsa ini. Ketika “sang leader” yang dipilih bak “memilih kucing dalam karung” kemudian dipilih kembali. 

Cerita apa yang hendak kita tuturkan kepada generasi kita. 

Bukankah generasi setelah kita akan terus menertawakan. Betapa tololnya “generasi kita” cuma memilih “kucing dalam karung”. 

Dan saya memilih untuk tidak ditertawakan oleh anak-cucu saya. 

*) Penulis adalah Direktur Media dan Opini Al Haris-Abdullah Sani