Opini : Westernisasi Jadi Tradisi

Aldi Afrihadi, Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi. Foto : dok./ist.

Penulis : Aldi Afrihadi

Westernisasi Jadi Tradisi : Melihat kisruh Farewell Party SMAN 1 Tanjabbar dari Prespektif Teori Psikologi Sosial

Indonesia bukan hanya gugusan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Indonesia adalah gugusan budaya dengan corak dan keragamannya yang sangat kaya raya. Mencintai, merawat dan menjaga semua yang terkangdung didalamnya adalah sebuah keharusan. Bukankah perbedaan itu takdir tuhan yang tidak bisa di bantahkan lagi. Seketika kita mengaku mencintai budaya dan negeri tetapi tidak pernah merawatnya bukankah itu kebohonagan yang semata-mata atas nama cinta?.

Namun terlepas dari itu semua Peradaban Bangsa Indonesia saat ini dinilai mengalami kemunduran pada tingkat yang sangat drastis. Kemunduran ini tidak hanya dari cara berperilaku melainkan juga material budaya yang dihasilkan seperti lagu, tarian, dan karya budaya lainnya. Hal ini semua tentuntunya tidak terlepas dari kondisi zaman saat ini. Era ini kemudian dikenal dengan era globalisasi, sebagaimana seorang tokoh ahli sosiolog Inggris, Anthony Giddens mengatakan bahwa globalisasi merupakan intensifikasi hubungan sosial secara mendunia sehingga menghubungkan antara peristiwa di satu lokasi dengan lokasi lainnya serta menyebabkan terjadinya perubahan pada keduanya. 


Kemudian ditambah dengan kemajuan teknologi yang kian hari kian ter-modernisasikan oleh zaman taklah dapat di pungkiri lagi ketika kebudayaan yang masuk melalui akses dan di adopsi oleh seluruh masyrakat di Indonesia menjadi suatu tantangan. Terlebih yang menyasar dampak masuknya kebudayaan asing yang paling utama adalah menyasar kepada generasi muda bangsa, yang seharusnya di genggaman serta pundaknyalah sebuah kebudayaan peninggalan nenek moyang asli Indonesia dapat di lestarikan agar terus eksis hingga ke generasi berikutnya malah menjadi sebuah impian yang seakan harus sirna.

11 April 2021, menjadi sebuah pembuktian dari banyaknya perkara nyata yang menunjukan bahwa kebudayaan ciri khas bangsa Indonesia sedang berada di ujung tanduk. Sebegaimana di beritakan oleh media online, cetak hingga jagad media sosial Jambi di hebohkan dengan pesta perpisahan sebuah sekolah negeri di salah satu kabupaten yang berada dalam lingkungan provinsi Jambi mengdakan sebuah party atau event pelepasan siswa kelas XII. Dengan tidak mencerminkan berakhirnya pencapaian insan akademis yang terpelajar setelah mengenyam pendidikan. 

Melakukan sebuah pesta apa lagi sebuah seremonial pelepasan memanglah suatu hal yang sangat di nantikan dan berkesan oleh semua kalangan baik siswa mupun mahasiswa sekalipun, hal ini menunjukan sebuah perjuangan tanda berakhirnya masa studi dalam menuntut ilmu di bangku pendidikan formal. Namun apa yang dilakukan oleh siswa kelas XII SMAN 1 Tanjung Jabung Barat ini sudah sangat menyalahi aturan dimana kondisi saat ini sedang dilanda pandemi Covid-19 yang belum kian berakhir maka pengetatan dan mematuhi sebuah protokol kesehatan teruslah selalu di tekankan oleh pemerintah, tidaklah di taati oleh sebagian peserta pesta dan di hadiri banyak masa. 

Selain itu juga acara seremonial ini mengikis habis moral-moral kebudayaan, yang mana kita ketahui bahwa wilayah kabupaten Tanjung jabung barat sangatlah memegang teguh kebudayaan melayu hingga ke budayaan suku yang notabene telah lama mendiami Tanjabbar, selain itu juga kabupaten tanjung jabung barat sangatlah berpegang teguh dengan nilai-nilai tradisional islam di setiap seremonial acara yang berada di dalam masyrakat. Namun apa yang terjadi saat ini di kabupaten Tnjung jabung barat yang di beritakn oleh banyak berita online maupun cetak menjadi hal yang berbanding terbalik dengan kondisi kehidupan kebudayaan yang dikenal kental di masyrakatnya. 

Dimana para siswa melakukan sebuah pesta yang tidak sedikitpun memasukan unsur sebuah kebudayaan setempat melainkan sangat kental kearah kebudayaan luar atau westernisasi yang kita kenal dengan sebuatan “Dugem”, atau goyangan yang tidak beraturan yang dilakukan seluruh orang dengan diiringi oleh musik modern atau “DJ”. Kebiasaan pesta seperti ini memang sangatlah jauh dari kata kebudayaan bangsa Indonesia yang sejatinya masih mematuhi sebuah moral, kebiasaan dengan berdasarkan adat dan kepercayaan atau agama. 

Prespektif Psikologi Sosial 

Dalam kajian Psikologi sosial hal-hal yang berkenaan dengan gaya meniru dari sebuah objek kemudian di ikuti adalah kehidupan nya di jelaskan dalam teori kognitif sosial oleh  Albert Bandura, menurut Bandura manusia yang belajar akan sesuatu dengan cara meniru perilaku dari orang lain yang artinya jika seseorang akan belajar dengan cara mengamati orang lain. Maka dalam teori ini bandura menjelaskan bahwa setiap individu kemudian memiliki hasrat untuk meniru perbuatan sikap dan hal-hal yang dianggap baik utuk di ikuti dilakukan dengan cara mengamati terlebih dahulu dari suatu objek tertentu.

Kemudian kita kembali pada kasus pesta pelepesan atau Farewell Party yang di adakan SMAN 1 Tanjung jabung barat ini dimana acara yang berjalan dengan banyak nya kesimpang siuran mungkin dengan konsep acara yang kemudian menunjukkan kebudayaan yang sejatinya tidak sesuai dengan kehidupan masyrakat Indonesia walaupun acara yang seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia apalagi di kota-kota besar lainya. Namun perlu di ketahui ini merupakan suatu bentuk nyata dari teori kognitif sosial oleh bandura yang mereka adopsi dari banyaknya media sosial yang menunjjukan kebiasaan pesta dari orang asing.

Selain itu juga psikologi sosial memiliki sebuah pandangan terhadap masuknya sebuah kebudayaan asing yang kemudian masuk ke kebudayaan yang sudah lama sehingga akan terjadi akulturasi kebudayaan dalam pandangan sosiologi akulturasi adalah proses masuknya budaya asing yang kemudian lambat laun di terima oleh masyarakat tanpa menghilangkan unsur kebudayaan yang sudah ada. Kemudian sebagai keilmuan yang memepelajari langsung tentang prilaku atau kepada sikap individu atau kelompok sosial.


Psikologi sosial berpandangan bahwa pembentukan karakter dari individu di pengaruhi oleh lingkungan iternal maupun eksternal sebagai mana di jelaskan dalam teori belajar sosial penerapan sebuah perilaku menjadi kebiasaan dengan menerapkan teori psikologi sosial dengan metode untuk pembelajaran. Nah dari sebuah pemebelajar yang di dapatkan dalam lingkungan yang ada kemudian memebentuk karakter dari seseorang tersebut tentunya dengan sebuah aspek konasi presepsi yang menjelaskan suatu proses dari belajar, meniru menjadi sebuah prilaku menjadi sikap kemudian di tunjukan dengan sebuah tindakan.

Oleh karena itu penulis mengajak para generasi muda khususnya, jangan jadikan hal-hal yang masuk dari luar menjadi acuan untuk membentuk sebuah kebiasaan baru tanpa adanya sebuah pempelajaran dan dipahami dahulu sebagaimana yang di jelaskan di dalam terori psikoanalisis dalam teori psikologi sosial, sekali lagi ditekan kan suatu bangsa dan Negara akan selalu besar apabila kebudayaan-kebudayaanya terus di lestarikan dan di wariskan hingga generasi berikutnya di suatu Negara tersebu.


***


(Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi)